oleh

Mengenal Lebih Dekat Eks Ajudan Almarhum H Kalamuddin Djinab. SH., MH, Ini Sosoknya

MUARA ENIM, http://wartainspirasi.com

Mungkin sebagian orang kenal dengan H Rinaldo S.STP, M.Si atau sering di sapa panggilan akrabnya Aldo. Ia merupakan salah satu Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Muara Enim yang mudah bergaul dan bersahabat. Beliau merupakan ajudan Wakil Bupati dan dilanjutkan sampai Almarhum H Kalamuddin Djinab SH menjabat Bupati Muara Enim 2 Periode 2003 – 2008 dan 2008 – 20013.

Dimana Alm H Kalamuddin Djinab merupakan putra daerah yang dilahirkan di Desa Lebak Budi Kecamatan Tanjung Agung dan almarhum meninggal dunia di Rumah Dinas Bupati Muara Enim pada 27 Mei 2009 pada pukul 06.30 Pagi dikarenakan sakit.

Saat media ini menyambangi untuk mewawancarai kisah dan juga awal karir, ia agak enggan bercerita namun setelah kita berdiskusi akhirnya secara tidak langsung beliau memberikan masukan juga harapan terkhusus apa yang diimpikan dan di cita – citakan almarhum saat menjabat Bupati Muara Enim untuk membangun Kabupaten Muara Enim yang belum dilaksanakan sampai saat ini ujar Aldo sambil senyum.

Mengawali wawancara kami, kami menanyakan riwayat karir H. Rinaldo SSTP MSi yang sering disapa Aldo.
beliau telah menyelesaikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Palembang, ia sempat diterima menjadi karyawan PT Semen Baturaja melalui seleksi nilai akademik SMA untuk di sekolahkan oleh perusahan dan nantinya menjadi karyawan pada perusahaan tersebut.

Namun, diwaktu yang bersamaan, ia lebih memilih untuk mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Pemerintah Dalam Negeri (STPDN) merupakan Sekolah Ikatan Dinas dan dibiayai oleh negara pada waktu itu hingga saat ini,” ungkap Aldo yang Lahir di Palembang, 19 September 1977 ini.

Pada 1999, ia menyelesaikan Pendidikan dan ditempatkan di Kabupaten Muara Enim. Awal karirnya ia ditempatkan di BKD Kabupaten Muara Enim. Tak lama diposisi itu, pada tahun 2000 dipercaya sebagai ajudan Wakil Bupati Muara Enim, yang saat itu dijabat oleh H Kalamuddin Djinab SH.

Di sana ia berkesempatan mendapat beasiswa Tugas Belajar oleh Pemerintah Kabupaten Muara Enim untuk melanjutkan kuliah Pasca Sarjana S2 pada 2002 – 2004 di Universitas Gajah Mada (UGM) di yogyakarta. Setelah selesai, ia menjabat Staf Humas dan Protokol Setda Pemkab Muara Enim. Pada 2005 – 2008 diangkat sebagai Kasubag Rumah Tangga. Namun tetap merangkap sebagai ajudan Bupati sampai Bupati Muara Enim alm. H. Kalamuddin Djinab tutup usia.

Lalu, karirnya terus berjalan menjadi Kasubag Perencanaan dan Pengadaan Bagian Perlengkapan, sekaligus merangkap Plt. Kabag Perlengkapan 2009. Pada 2009 – 2011 ia menjabat sebagai Kepala Bidang di Dinas PPKAD. Lalu, pada 2011- 2014 sebagai Kapala Bidang Perimbangan pada dinas yang sama. Dan, karirnya terus naik menjadi Kabag Humas dan Protokol 2014 – 2018, dan dipercaya menjadi Kepala Bapenda Muara Enim sampai 2021, dan jabataan saat ini menjadi Kepala DPPKB Muara Enim.

Bukan hanya itu, dikeorganisasian Aldo juga sangat berkiprah dan mumpuni. Buktinya, pada 2008-2013 sebagai Ketua Garuda KPP/ RC Kabupaten Muara Enim, ia juga menduduki Kursi Ketua KNPI Muara Enim (2009-2013) dan 2015-2019 Pengurus KONI Kabupaten Muara Enim, dan juga pada saat ini dipercaya menjabat Ketua MPC Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Muara Enim periode 2019 -2023.

“Alhmdulillah, untuk organisasi juga diikuti. Karena, organisasi merupakan, suatu bentuk silaturahim dan Habluminannas dalam bermasyarakat. Serta untuk belajar memimpin” terangnya.

Disinggung apakah untuk mengikuti organisasi tidak harus izin pimpinan atau atasan bagi seorang ASN?
“Mohon maaf kalau saya salah menjawab, setau saya dari 2008 saya ikut berorganisasi Kemasyarakatan atau pun Lembaga Swadaya Masyarakat apa pun bentuk organisasinya tidak harus izin pimpinan atau atasan, karena kita ikut di organisasi ini untuk membantu atau mitra pemerintah dalam pembangun untuk kesejahteraan masyarakat. Kalau ASN sama, tidak harus izin atasan atau pimpinan. Setau saya yang harus izin atasan adalah organisasi atau Lembaga swadaya luar negeri atau asing dan ini diatur dalam PP No 94 Tahun 2021 tentang Kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil dan yang dilarang ASN adalah ikut organisasi terlarang seperti teroris, berpolitik atau berpartai dan lain sebagainya,” tutur Aldo.

Ditanya bagaimana prinsip dia sebagai pemimpin?, Kata dia, ia memiliki prinsip dalam memimpin itu harus adil, karena semua yang dilakukan akan diminta pertanggung jawaban di akhirat nantinya. Dan, jangan mudah menerima omongan orang yang belum tentu kebenarannya.

“Pemimpin itu kalau bisa mengayomi bawahannya, mau menerima kritikan atau saran dari bawah dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan yang ingin dicapai untuk mensejahterahkan anggota dan organisasi. Ada pepata diatas langit masih ada langit, dan juga seperti padi makin berisi semakin merunduk,” kata Aldo.

Aldo bercerita, terkait dengan pembangunan yang ada saat ini, sebagian besar merupakan program Almarhum H. Kalamuddin Djinab SH tidak juga meniadakan hasil karya pemimpin lainnya, pembangunannya sampai saat ini masih bisa kita lihat dan dinikmati di Kabupaten Muara Enim. Apalagi, Kabupaten Muara Enim Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) sangat banyak contoh Migas, Batubara, Perkebunan dan Panas Bumi juga potensi pariwisata yang dimiliki tidak kalah indahnya.

“Saya ajudan alm. H. Kalamuddin Djinab SH,.MH cukup lama lebih kurang 10 tahun saya sangat hormat dan mengagumi beliau seperti orang tua saya sendiri. Saya juga banyak belajar dari beliau. Sehingga, saya bisa seperti ini ditambah doa orang tuaku, beliau pemimpin yang Visioner berpikir untuk membangun Kabupaten Muara Enim jauh kedepan. Disini dapat saya sampaikan, bahwa masih banyak program – program beliau yang tidak dilanjutkan ataupun yang belum teralisasi sampai saat ini, karena ia meninggal dunia,” bebernya.

Program-program tersebut diantanya antara lain, pertama, Pembangunan Ruas Jalan Lingkar Muara Enim – Lubai kalau tidak salah DEDnya sudah ada dan jalan ini peruntukannya untuk pengembangan kota Muara Enim sekaligus mempersingkat jarak dan waktu tempuh bagi masyarakat untuk membawah hasil komoditi di desa ke Kota Muara Enim. Kedua, Jalan Simpang Kepur – Sugiwaras padahal pembangunan sudah Sebagian dilaksanakan pembebasan lahannya tinggal untuk dilanjutkan saja tapi sampai saat ini belum dilanjutkan. Mengapa program ini sangat dibutuhkan karena beliau berpikir 50 tahun kedepan jalan Muara Enim – Tanjung Enim akan putus oleh longsor sungai akibat tonase angkutan batu bara dan jalan baru ini jadi jalan alternatifnya. Ketiga, keinginan beliau juga akan membuat Pasar Induk. Dimana akan ditempatkan di antara Gunung Megang dan Rambang Niru jalan raya Lubai – Muara Enim. Agar hasil komoditi pertanian, perkebunan maupun perikanan dari lubai maupun muara enim bisa terjangkau oleh masyarakat dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Muara Enim sampai Lubai.

Lalu keempat, kata Aldo, semua perkantoran dikawasan Islamic Center dengan cara Tukar Guling kepada Instansi Pertikal untuk Perluasan RSUD HM Rabain Muara Enim yang letaknya strategis. juga ingin meningkatkan Sekolah Tinggi yang ada di Kabupaten Muara Enim menjadi Universitas. Bila kantor Bupati Muara Enim sudah terpusat di kawasan Islamic Center, tentunya eks. Kantor Bupati lama bisa dimanfaatkan bagi pihak ketiga untuk pembangunan Mall dan Hotel di Kota Muara Enim.

Kelima, Pembentukan Bank BPR yang saat ini sudah ada dan baik akan tetapi keinginan beliau saat itu Bank BPR juga mempunyai peran sentral selain sebagai bank simpan pinjam juga sebagai Market untuk membeli hasil komoditi yang dihasilkan masyarakat dengan harga bersaing. Bank BPR inilah yang mencari pangsa pasar dan pihak ketiga untuk menerima produk produk yang dibiayai pinjaman oleh Bank tersebut untuk masyarakat. Jadi petani tidak lagi memikirkan untuk mencari pembeli atau menjual hasil panennya akan tetapi mereka lebih profesional untuk meningkatkan kualitas dan hasil produksinya. Dan, keenam, meningkatkan hasil produksi padi dan sawah tadah hujan di Arisan Musi / Muara Belido untuk membuat irigasi atau kanal besar yang terintegrasi buka tutup dengan memanfaatkan air sungai musi saat pasang. Sehingga, petani bisa berapa kali melakukan tanam padi sawah dan tidak tergantung dengan tadah hujan.

“Jadi, ini sebagian kecil saja dari program Almarhum H. Kalamuddin D. SH.MH yang sampai sekarang belum terlaksanakan. Harapan saya dan kita semua, siapa pun yang mimpin Muara Enim dapat merealisasikan program yang telah direncanakan oleh beliau dahulu karena menurut saya program ini sangat baik sekali dan sangat bermanfaat bagi masyarakat Kabupaten Muara Enim,” tutur Aldo dari lima bersaudara ini. (RI)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed