Satukan Suara Warga 32 Desa Tetap Tolak Pembangunan Geothermal

Wartainspirasi.com — Tekad masyarakat dan tokoh masyarakat di 32 Desa di Kecamatan Tanjung Sakti PUMI dan PUMU, Kabupaten Lahat, serta mantan Pejuang Angkatan ’45’, kian bulat tolak pembangunan Geothermal PT Hitay.

Penolakan masyarakat tersebut, juga didukung oleh Aliansi yang tergabung dalam Barisan Pemuda Nusantara (BAPERA) Lahat, HMI cabang Lahat, PPUI Lahat, KAMMI Lahat, Ikatan Keluarga Tanjung Sakti (IKA TASTI) yang berada tersebar di beberapa Provinsi, dan Pemuda Jurai Besemah, yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Tanjung Sakti (Amalitasti), kembali menggelar musyawarah di Pendopoan Tanjung Sakti, pada Sabtu 21 Juni 2025.

Evan Charlie Koordinator Amalitasti menyampaikan, dirinya dan tim mendata masyarakat yang ada di Tanjung Sakti PUMU dan PUMI, dari beberapa kali pertemuan dan masyarakat menolak adanya Geotermal ini.

Musyawarah besar (Mubes) kali ini yang dikomandoi Pajrullah Azhari dan Imri kembali membahas hal lebih mendalam. Tanjung Sakti sebagai lokasi lumbung padi, lumbung perkebunan kopi, perkebunan sayuran akan terkena imbas paling dominan dari kerusakan ekosistem.

“Bayangkan dari peta eksplorasi sendiri dilihat tidak jauh dari pemukiman warga, berada di persawahan masyarakat kami,” cetusnya.

Pajrullah Azhari selaku Ketua Panitia Mubes Amalitasti mengatakan, bahwa dukungan untuk Penolakan Geotermal ini pun tidak hanya dari masyarakat yang tinggal di Tanjung Sakti, tapi dukungan mengalir dari warga perantauan.

“Jangan sampai kita menyerahkan tanah leluhur kita yang sudah banyak memberikan kehidupan secara turun temurun ini untuk dijadikan Geothermal. Dan dinikmati segelintir orang luar saja,” kata Pajrullah dengan nada lantang.

Sementara, Muaman (95 th) Veteran Angkatan ’45 asal Desa Pajar Bulan mengatakan, dukungan penolakan terhadap Geothermal. Sakitnya mereka berjuang mengusir penjajah Belanda dan Jepang masih terasa hingga kini.

“Apalagi yang ingin merusak Tanjung Sakti, jelas kita tolak,” ajaknya dengan penuh semangat.

Terpisah, Indra Ketua Jurai Besemah, mengatakan, jika izin eksploitasi diberikan dan PT. Hitay beroperasi di tanah Tanjung Sakti, atas nama masyarakat TASTI mengutuk keras Pemerintah.

“Susah berhadapan dengan musuh dalam selimut. Jika keresahan ini tidak di tanggapi dan di fasilitasi oleh Pemkab dengan membuka ruang dialog duduk bersama, PT.Hitay, Pemkab, DPRD, kecamatan dan warga tasti supaya jelas dan terang benderang terkait geotermal di tanah tasti,” ucapnya.

Teddy warga Desa Gunung Raya, yang ikut menginisiasi Mubes TS PUMU dan PUMI, senada dengan Visi Misi bupati terpilih dan asta cita Presiden Prabowo, fokus membangun di desa di pertanian , perkebunan, persawahan, dan perikanan.

“Warga tanjung sakti akan menuntut dan menagih janji kampanye Bupati terpilih. Warga mengancam akan aksi turun ke jalan dengan memblokir akses masuk ke tanjung sakti tepatnya perbatasan Desa Kerinjing dengan Desa Pulau Panas. Kami sudah sangat bersabar,” tegasnya.

Untuk diketahui Tuntutan masyarakat 32 Desa TS diantaranya:

– Rakyat TS menolak eksploitasi Geothermal yang mengancam air, hutan dan kehidupan kami.
– Jangan rusak TS, kami tidak ijinkan tanah ini di bor dan dijual.
– Geothermal bukan untuk rakyat, tapi untuk korporasi, kami menolaknya dengan tegas.
– Kehidupan kami tidak untuk ditukar dengan janji proyek yang menghancurkan alam.
– Tanah, air dan hutan adalah napas kami, Geothermal adalah ancamannya.
– Tolak Geothermal TS, kami berdiri untuk generasi mendatang.

Untuk hasil dari musyawarah sendiri:
– Akan mendorong dirubah tata ruang Kabupaten Lahat untuk menghilangkan (menolak) potensi Geothermal di TS.
– Menggalang tanda tangan di 32 desa di TS, membawa penolakan ke Pemkab Lahat untuk beraudiensi dengan Pemkab. Untuk mendorong Pemkab Lahat untuk memberikan rekomendasi senada dengan yang dituntut masyarakat TS.
– Kemudian berjenjang ke provinsi, sampai berjenjang ke kementrian kami lakukan hal ini bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *