Kafir; Tidak Tahu Terima Kasih

Berita521 Dilihat

Wartainspirasi.com — Terima kasih dimaksud merupakan bentuk syukur. Ucapan yang baik juga berbagai bentuk ungkapan terima kasih dalam rangka mengharap apa yang dimaksud dengan ridho Allah sebagaimana terungkap di kemudian alam Ayat-ayat artinya berikut ini:

” Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hambaNya sebagai bagian dari Nya, sungguh manusia itu pengingkar (nikmat Tuhan) yang nyata” (az-Zukhruf: 15).

” Jika kalian kufur akan (nikmatKu) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari kalian dan (Allah) tidak ridho untuk kekufuran hambaNya dan jika kalian bersyukur Ia meridhoi kalian. Seseorang tidak tidak memikul dosa orang lain kemudian kepada Tuhan kalian tempat kembali kalian maka akan Aku beri tahukan kalian dengan apa yang kalian kerjakan sesungguhnya Dia Maha Mengetahui yang tersimpan di dalam isi dada” (az-Zumr: 7).

Menjalankan perintah Allah bukan hanya dipandang sebagai suatu yang tanpa ada tawar-menwar agar tidak semata menjadi beban tanggung jawab namun di sisi lain tidak untuk diremehkan yang biasa disebut “al-jafa'” namun pintu rahmat Allah sangat lah banyak dan luas yang membuat siapa saja tidak bisa lepas untuk meraihnya.

Pintu cinta, malu sampai jihad (berjuang) senantiasa sedia. Namun yang perlu diingat adalah rambu-rambu syari’ahnya. Berterima kasih kepada Allah akan dibalas kebaikan dari sisi Nya, berbeda dengan perhitungan manusia namun dengan berlipat ganda. Menyesali kelemahan, kelalaian serta kecerobohan sebagai bentuk kebodohan dan keterbataan diri sebagai manusia penting untuk diperhatikan dalam rangka melembutkan hati yang tidak mengerti akan kelembutan Nya.

Istilah kafir, yang kian kemari kian populer dialihbahasakan dengan “cover” atau penutup adalah menutup diri dari keutamaan dari setiap kebaikan. Disebut banyaknya pintu rahmat di atas, menjadi konsekuensi banyaknya kebaikan di dunia ini sampai berserakan. Kemungkinan ada saja yang terlewatkan menjadi maklum untuk dapat dimaafkan bagi yang menyadari diri sebagai manusia yang hidup di atas semesta bumi Allah.

Berbagai amalan dapat menjadi tameng bahkan penawar dari berbagai kesulitan dan ancaman dosa termasuk kekafiran jenis sekecil pun. Para Ulama dengan Rahmat Allah telah merumuskannya dalam berbagai pemikiran dan dalam bentuk produk berupa fiqh baik “shoghir” atau kecil, juga “kabir” yaitu besar.

Di antaranya adalah selain menyampaikan langkah-langkah pengamalan sebagaimana al-Qur’an pesankan berikut, artinya: “…maka bacalah (amalkan) apa yang mudah dari al-Qur’an…” (Al-Mudddatstsir: 20) juga mempermudah pemahaman terhadap berbagai perintah dan larangan Allah. InshaaAllah penulis dan pembaca termasuk orang-orang yang tidak berputus asa dari rahmat Nya Yang Maha Mensyukuri!

Oleh: Nazwar, S. Fil., M. Phil. (Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *