Wartainspirasi.com — Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2026/2027 tingkat SD, SMP, hingga SMA sejatinya telah memberikan ruang serta fasilitas penunjang berdasarkan sistem zonasi atau rayon wilayah.
Namun, kondisi memprihatinkan justru terjadi di SD Negeri 82 Bengkulu Tengah yang berlokasi di Desa Talang Boseng, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah.
Pada tahun ajaran 2026/2027 ini, SDN 82 tercatat hanya menerima sebanyak 2 orang siswa baru.
Minimnya jumlah murid baru tersebut mendadak menuai sorotan dan isu hangat di tengah publik.
Saat awak media mendatangi sekolah pada Rabu (22/7/2026) untuk meminta konfirmasi, Kepala Sekolah SDN 82 Bengkulu Tengah sedang tidak berada di tempat.
Kendati demikian, salah seorang dewan guru yang didampingi rekannya membenarkan kondisi tersebut.
Guru yang enggan disebutkan namanya dan menolak untuk didokumentasikan itu mengakui adanya penurunan drastis pada PPDB tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Iya pak, benar, penerimaan murid baru tahun ajaran 2026/2027 ini cuma 2 orang siswa. Angka ini jauh menurun dibanding tahun sebelumnya,” ujar sang guru kepada awak media, Rabu (22/7/2026).
Meskipun jumlah siswa baru sangat terbatas, pihak sekolah memastikan bahwa Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) akan tetap berjalan optimal.
“Hal ini tidak mengurangi fungsi dan tugas kami sebagai garda utama dalam memberikan pendidikan terbaik bagi anak didik kami,” tambahnya.
Menanggapi fenomena tersebut, Anggota Komisi III DPRD Bengkulu Tengah, Joni Anuar, menyayangkan minimnya pendaftar di SDN 82 Desa Talang Boseng.
Saat ditemui di kediamannya, Joni menilai kondisi ini tidak sebanding dengan potensi jumlah penduduk di wilayah tersebut.
Joni menegaskan bahwa Desa Talang Boseng memiliki lebih dari 200 Kepala Keluarga (KK) yang secara zonasi atau rayon wilayah seharusnya mengarahkan anak-anak mereka ke SDN 82.
“Sangat disayangkan SDN 82 hanya menerima 2 orang siswa. Padahal tidak kurang dari 200 KK di Desa Talang Boseng yang seharusnya dapat diarahkan ke sana, karena desa tersebut merupakan rayon wilayah pendidikan SDN 82,” tegas Joni.
Lebih lanjut, Joni menyampaikan bahwa jenjang Sekolah Dasar merupakan fondasi awal pendidikan anak yang sangat bergantung pada arahan orang tua.
Ia menduga salah satu penyebab minimnya siswa adalah kurangnya respons serta minat dari para orang tua setempat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah desa sendiri.
Joni berharap kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang dan mengimbau masyarakat untuk memaksimalkan fasilitas pendidikan yang ada.
“Kedepan jangan sampai terulang lagi. Mari kita berikan asas manfaat pada fasilitas pendidikan yang sudah ada di desa ini,” tutup Joni Anuar.











