Wartainspirasi.com – Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya sebuah rekaman video berdurasi pendek yang memperlihatkan aksi penganiayaan brutal.
Terduga pelaku, yang diidentifikasi berinisial AJ (diduga Warga Negara Asing/Warga Tionghoa), terlihat secara kejam menganiaya seorang warga Palembang, Sumatera Selatan.
Video tersebut langsung memicu gelombang amarah dan keprihatinan mendalam dari masyarakat luas.
Peristiwa keji tersebut diketahui terjadi di sebuah lokasi di Palembang pada Kamis (4/6/2026) sore.
Dalam rekaman video yang beredar, tampak seorang pria bertubuh kurus mengenakan baju abu-abu dan celana jins hitam berada dalam posisi tidak berdaya.
Kedua tangannya terlihat sengaja diikat di bawah meja.
Dalam kondisi korban yang terkunci, AJ dengan leluasa menghantamkan sebatang kayu ke tubuh korban secara bertubi-tubi.
Kekerasan yang intens tersebut bahkan membuat batang kayu yang digunakan pelaku patah menjadi dua bagian.
Meski korban sudah menangis histeris menahan sakit, memohon ampun, dan sempat berteriak bahwa dirinya memiliki istri, pelaku AJ sama sekali tidak memedulikannya.
AJ justru terus melayangkan pukulan ke arah kepala dan tubuh korban.
Tak hanya melakukan kekerasan fisik, pelaku juga terekam melontarkan kalimat sombong yang menantang institusi penegak hukum di Indonesia.
Saat korban meminta pukulan dihentikan, AJ justru dengan angkuh menyatakan bahwa dirinya kebal hukum.
“Kau tau dak, Polisi kawan aku galo, tidak ada yang sanggup nangkap aku,” teriak AJ dengan nada tinggi sembari melanjutkan aksi pemukulannya.
Viralnya aksi tidak berprikemanusiaan ini memancing reaksi keras dari berbagai pihak. Ketua Gerakan Cintai Lahat (GCL), Mahendra Reza Wijaya, S.H., mengecam keras tindakan AJ yang dinilainya sudah jauh di luar batas kewajaran.
“Oleh karenanya, saya meminta kepada Kapolda Sumsel maupun Poltabes Palembang agar dapat segera menangkap AJ. Tindakannya sudah tidak berprikemanusiaan, menganiaya korban yang sudah diikat dan tidak berdaya,” ujar Mahendra dengan nada geram kepada awak media, Jumat (5/6/2026).
Pengacara muda ini juga menyoroti pernyataan sombong pelaku yang mengaku berteman dengan aparat. Menurut Mahendra, pernyataan pelaku menjadi ujian besar bagi integritas Aparat Penegak Hukum (APH) di Sumatera Selatan.
“Pernyataan pelaku memicu pertanyaan di masyarakat, apakah benar hukum kita tajam ke bawah dan tumpul ke atas? Kami meminta pihak kepolisian membuktikan bahwa hukum tidak tebang pilih. Kami menanti tindakan tegas dan nyata dari aparat untuk segera menyeret pelaku ke jalur hukum,” tegasnya.
Sampai berita ini diturunkan, redaksi masih terus berupaya mengonfirmasi pihak Kepolisian daerah setempat terkait tindak lanjut dan proses penyelidikan atas video penganiayaan yang meresahkan warga tersebut.







