Wartainspirasi.com – Objek wisata Danau Gedang yang terletak di Desa Padang Betuah, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, kini kondisinya kian memprihatinkan.
Destinasi yang dulunya sempat viral dan menjadi primadona wisatawan ini, sekarang tampak terbengkalai dan terkesan kurang mendapat perhatian dari pihak terkait.
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi pada Minggu (21/6/2026), tata ruang di kawasan wisata Danau Gedang sudah nyaris sirna.
Tugu wisata permanen yang sebelumnya berdiri kokoh sebagai papan informasi bagi para pengunjung, saat ini sudah tidak terlihat lagi.
Kondisi ini pun menuai perhatian sekaligus kekecewaan dari publik yang menyayangkan hilangnya ikon wisata tersebut.
Mamat, salah seorang pengelola objek wisata Danau Gedang, membenarkan bahwa tingkat kunjungan wisatawan akhir-akhir ini mengalami penurunan drastis.
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya kerap menerima keluhan dari para pengunjung yang datang.
“Akses jalan masuk menuju lokasi wisata saat ini sudah rusak parah, sehingga sangat mempersulit laju kendaraan pengguna jalan. Di sisi lain, tata ruang tempat wisata ini juga sudah tidak tertata dengan baik lagi,” ujar Mamat kepada awak media, Minggu (21/6/2026).
Dampak dari sepinya pengunjung ini juga memukul perekonomian warga lokal.
Warung-warung yang dulunya berjejer ramai di depan kawasan wisata, kini secara berangsur-angsur mulai tutup akibat ketiadaan pembeli.
Menurutnya, Danau Gedang merupakan aset daerah yang sangat potensial untuk menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) jika dikelola dengan serius.
“Apabila ditata dengan baik, kami optimis wisata ini akan kembali ramai dipadati pengunjung, terutama saat hari libur panjang. Kami sangat berharap pemerintah bertindak tegas memperbaiki akses jalan dan menata ulang objek wisata ini,” pungkasnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bengkulu Tengah, Eka Nurmaini, tidak menampik adanya kerusakan pada sejumlah fasilitas di destinasi tersebut.
Namun, ia menjelaskan bahwa pemerintah daerah saat ini menghadapi kendala finansial.
“Memang sarana di sana sudah banyak yang rusak. Namun, mengingat kondisi efisiensi anggaran saat ini, fasilitas tersebut belum bisa direhabilitasi, apalagi untuk menambah fasilitas baru,” jelas Eka.
Warga dan pengelola berharap ada solusi kreatif atau kolaborasi lintas sektor agar aset wisata ini tidak sepenuhnya mati.










