Wartainspirasi.com — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Pemprov Sumsel) resmi meluncurkan Pengembangan Ekosistem Rantai Pasok Gerakan Sumsel Mandiri Pangan Makan Bergizi Gratis (GSMP-MBG).
Acara yang dirangkaikan dengan High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumsel ini berlangsung di Lanud Sri Mulyono Herlambang, Kamis (30/7/2026).
Peluncuran ini menjadi langkah strategis Pemprov Sumsel untuk memperkuat ketahanan pangan daerah melalui pembangunan ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Selain mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), ekosistem ini dirancang untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Wakil Gubernur Sumatera Selatan, H. Cik Ujang, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas tren positif indikator pembangunan pangan di Sumsel.
“Alhamdulillah, berbagai indikator pembangunan pangan di Provinsi Sumatera Selatan terus menunjukkan capaian yang semakin menggembirakan,” ujar Cik Ujang.
Cik Ujang membeberkan sejumlah data capaian indikator pangan dan ekonomi Provinsi Sumsel yang terus membaik:
Indeks Ketahanan Pangan (IKP) 2025: Mencapai 79,31 (peringkat ke-4 nasional).
Skor Pola Pangan Harapan (PPH) 2025: Menembus angka 95,1, menandakan pola konsumsi masyarakat makin beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA).
Prevalensi Kekurangan Konsumsi Pangan (PoU): Berada pada kisaran 5,97%.
Prevalensi Stunting: Menurun hingga mencapai kisaran 15,8%.
Tingkat Kemiskinan (Sep 2025): Turun menjadi 9,85%.
Inflasi Tahunan: Tetap terjaga pada angka 2,91%.
Cik Ujang menegaskan bahwa pembangunan pangan saat ini tidak lagi bisa dilakukan secara sektoral, melainkan butuh sistem yang mampu menghubungkan seluruh rantai pasok mulai dari produksi, pembiayaan, distribusi, hingga konsumsi.
Oleh karena itu, GSMP yang dicanangkan sejak 2021 kini bertransformasi menjadi Ekosistem Rantai Pasok Pangan Sumsel.
“Ekosistem ini menghubungkan petani, nelayan, peternak, kelompok perempuan, pondok pesantren, UMKM, koperasi, dunia usaha, perbankan, perguruan tinggi, media, serta pemerintah,” jelas Wagub.
Kendati demikian, Cik Ujang mengingatkan agar seluruh pihak tidak cepat berpuas diri mengingat berbagai tantangan ke depan, seperti alih fungsi lahan, dampak perubahan iklim, hingga fluktuasi harga pangan.
Ia bertekad menjadikan Sumsel sebagai salah satu percontohan nasional dalam pembangunan ekosistem pangan berbasis sumber daya lokal.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumsel, Bambang Pramono, menyatakan komitmen penuh BI dalam mendukung pengembangan ekosistem rantai pasok GSMP-MBG untuk menjaga stabilitas inflasi daerah.
Bambang memaparkan bahwa perekonomian Sumsel pada Triwulan I-2026 tumbuh solid sebesar 5,34% (yoy), didorong oleh konsumsi rumah tangga, industri pengolahan, dan investasi.
Sementara inflasi hingga Juni 2026 juga terjaga stabil di angka 2,89% (yoy).
Meski demikian, pihak BI mengingatkan pentingnya langkah antisipatif terhadap potensi El Niño pada Agustus–September 2026 yang dapat memengaruhi ketersediaan pasokan.
“Diperlukan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas harga, terutama komoditas pangan strategis seperti beras, cabai, bawang, dan hortikultura,” imbau Bambang.
Ia menambahkan, BI bersama TPID akan terus memperkuat strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) guna memastikan keberhasilan program GSMP-MBG dan menjaga daya beli masyarakat Sumsel.











