Bengkulu Selatan,wartainspirasi.com _ Sebagaimana di kutip dari antaranews.com yang di muat pada 23 September 2016 yang lalu, lebih dari 400 orang warga Darat Sawah dan sekitarnya menandatangani petisi penolakan Normalisasi Air Nipis Desa Darat Sawah Kecamatan Seginim Kabupaten Bengkulu Selatan, Normalisasi dengan melakukan pengerukan pasir dan batu koral di tengah Air Nipis tersebut di khawatirkan akan menimbulkan dampak kerusakan lingkungan yang lebih parah.
Namun konon kabarnya Normalisasi itu berjalan sampai selesai hingga akhir tahun 2016, dan fakta kini ternyata dampak dari pengerukan material batu koral dan pasir tersebut ternyata sudah terjadi. Pasalnya beberapa sawah milik warga di pinggiran sungai Air Nipis Desa Darat Sawah habis tergerus aliran air yang semakin mengarah ke pemukiman warga.
“Kami khawatir terjadi gerusan tepi sungai yang lebih parah karena arus sungai akan semakin deras akibat pengambilan material yang di lakukan beberapa waktu yang lalu,” kata Dirin, salah seorang warga setempat Selasa,(13/10).

Bukan hanya itu, Di tambahkan oleh Dirin bahwah sekarang sudah ada beberapa buah rumah yang jaraknya dengan air cuma hanya beberapa meter saja.
“Sekarang rumah warga sudah hampir tergerus oleh air, salah satunya rumah Burhanudin, dan Siapa yang bertanggung jawab?, “ujarnya.
Sementara itu, Burhanudin pemilik rumah yang hanya berjarak 2 meter dari aliran air tersebut mengakui bahwah rumahnya memang sangat di khawatirkan akan juga habis seperti sawah miliknya yang tergerus air sungai beberapa waktu yang lalu.
Ia meminta perhatian dari pemerintah daerah untuk dapat memasang penahan tanah (bronjong_red) agar supaya rumahnya bisa bertahan tak di bawa oleh derasnya aliran air yang mengalir.
“Kami selalu di hantui rasa takut jika hujan deras dan air meluap, terpaksa kami mengungsi ke rumah warga untuk menhindari hal-hal yang tidak ingin terjadi, kami takut ketika tidur nyenyak rumah amblas dan hanyut beserta kami, “keluh Burhan Senen,(12/10).
Burhan berharap ada perhatian pemerintah untuk membangun penahan air (bronjong_red) karna kalau tidak cepat di tindak lanjuti bukan hanya saja rumahnya yang di khawatirkan namun bisa rumah-rumah warga yang lain ikut terbawa arus sungai.
“Kami berharap ada perhatian pemerintah untuk memasang penahan air, “harapnya.
Di ketahui Masyarakat juga khawatir terhadap keselamatan bendungan di Desa Kota Agung yang digunakan petani untuk mengairi lahan persawahan irigasi Datar Rungau dan sekitarnya seluas 1.500 hektare.(Th)













