Wartainspirasi.com – Masalah kedisiplinan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah kembali menjadi sorotan tajam.
Meski status kepegawaian telah ditingkatkan, nyatanya integritas dalam bekerja terutama kedisiplinan waktu dan atribut pakaian dinilai masih lemah.
Fenomena “absen pagi lalu menghilang dan muncul sore hari” serta penggunaan sandal saat jam kerja menjadi potret nyata tantangan birokrasi yang perlu dibenahi.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Bengkulu Tengah, Drs. Tomi Marisi, M.Si, menegaskan bahwa sistem absensi berbasis Android yang diterapkan saat ini seharusnya mempermudah pemantauan, bukan justru menjadi celah untuk memanipulasi kehadiran fisik.
“Sekarang kita memakai absen pakai Android. Kalau dia menghilang dan lain sebagainya, ya dicari. Inilah yang perlu pengawasan bertindak. Pengawasan dari atasan langsung itu sangat krusial,” ujar Tomi saat ditemui pada Senin (2/2/2026).
Tomi menambahkan bahwa seorang pimpinan unit atau kepala bagian yang membawahi puluhan staf seharusnya merasa kekurangan dukungan jika bawahannya tidak berada di tempat saat jam kerja berlangsung.
Selain kedisiplinan waktu, etika berpakaian seperti penggunaan sandal di lingkungan kantor juga tak luput dari perhatian.
Sekda mengimbau agar seluruh pegawai tetap menjaga marwah instansi dengan menggunakan atribut sesuai ketentuan.
“Mungkin ada yang pakai sandal saat ke mushola, namun setelah itu ya kembali memakai sepatu lagi. Hal-hal seperti ini mari sama-sama kita ingatkan,” tambahnya.
Peningkatan status dari tenaga honorer menjadi PPPK seharusnya menjadi momentum peningkatan motivasi dan etos kerja.
Status baru tersebut membawa tanggung jawab lebih besar terhadap pelayanan publik yang profesional.
Pihak pemerintah daerah menyatakan akan terus mengevaluasi sistem pengawasan di setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) guna memastikan tidak ada lagi oknum yang mencederai integritas ASN.







